PENDIDIKAN, Rttro.id – Ironi besar menyelimuti sektor pendidikan Indonesia. Di saat banyak negara menjadikan pendidikan sebagai investasi utama untuk mencetak sumber daya manusia unggul, Indonesia justru berada di posisi paling depan dalam alokasi anggaran pendidikan terendah di dunia dari Produk Domestik Bruto (PDB) di antara negara-negara dengan ekonomi terbesar dunia. Mengutip CNBC Indonesia Kamis (16/7/2026)
Berdasarkan laporan UNESCO Institute for Statistics, Indonesia hanya mengalokasikan 1,3% dari PDB untuk pendidikan. Angka ini menjadi yang terendah dibandingkan 40 negara ekonomi terbesar dunia dari 182 negara yang disurvei, bahkan masih kalah dari negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Vietnam menganggarkan 2,9%, Thailand 2,5%, sementara Singapura mencapai 2,2% dari PDB.
Di sisi lain, Swedia tampil sebagai negara dengan komitmen terbesar terhadap pendidikan dengan alokasi 7,3% dari PDB. Disusul Denmark 6,4%, Belgia 6,3%, Inggris 5,9%, serta Brasil, Amerika Serikat, dan Korea Selatan yang masing-masing mengalokasikan lebih dari 5% dari PDB.
Jika cakupan diperluas ke seluruh dunia, negara-negara kepulauan kecil justru memimpin investasi pendidikan. Kiribati menggelontorkan 16,4% dari PDB, Tuvalu 12,9%, dan Mikronesia 11,6%. Fakta ini menegaskan bahwa besarnya komitmen terhadap pendidikan tidak selalu bergantung pada kekayaan suatu negara.
Para ahli menilai besaran anggaran dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari prioritas politik, struktur demografi, hingga kemampuan fiskal. Negara dengan populasi usia sekolah yang besar umumnya membutuhkan investasi lebih tinggi, sementara pemerintah juga harus membagi anggaran untuk sektor kesehatan, pensiun, hingga pembangunan infrastruktur.
Meski demikian, besarnya anggaran bukan satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan. Bank Dunia menekankan bahwa kualitas pengelolaan anggaran, kompetensi guru, tata kelola, serta akuntabilitas menjadi faktor yang sama pentingnya dalam meningkatkan mutu pembelajaran.
Ketika negara lain berlomba memperkuat investasi pendidikan, posisi Indonesia yang berada di dasar daftar menjadi sinyal serius bahwa pembangunan sumber daya manusia masih menghadapi tantangan besar. (*)












