GAZA, Rettro.id – Di tengah puing-puing yang seharusnya jadi tempat orang mencari hidup, malah berdiri panggung simbolik penuh ironi. Tentara Israel dilaporkan memasang spanduk bertuliskan “Rising Lion” lengkap dengan bendera mereka di atas Rumah Sakit Indonesia di Gaza, tepatnya di kawasan Jabalia.
Kalimat di spanduk itu bukan sembarang slogan. Isinya terdengar puitis, kutipan dari Taurat tentang bangsa yang bangkit seperti singa. Tapi konteksnya, dkpasang di atas rumah sakit yang sudah tak lagi bisa menyelamatkan nyawa. Singanya bangkit, pasiennya justru tumbang.
Foto spanduk ini pertama kali beredar di kanal Telegram Israel pada Senin (21/4/2026). Bahkan disebutkan, batalyon Brigade Negev bersiap memperingati Hari Kemerdekaan Israel di lokasi tersebut. Ya, perayaan kemerdekaan, di atas reruntuhan fasilitas kesehatan.
Rumah Sakit Indonesia sendiri sudah lama “dipaksa pensiun.” Sejak pertama kali dikepung pada November 2023, sempat buka lagi Juni 2024 sebagai satu-satunya harapan medis di Gaza utara, lalu kembali diserbu pada 2025 hingga akhirnya benar-benar tutup. Dari tempat penyelamat, berubah jadi latar belakang propaganda.
Di sisi lain, angka korban terus menumpuk. Puluhan ribu warga Palestina tewas sejak Oktober 2023, ribuan di antaranya anak-anak. Sektor kesehatan lumpuh—bukan karena kurang pasien, tapi karena tempat merawatnya ikut “dirawat” oleh serangan.
Pemerintah Indonesia pun tak tinggal diam. Lewat Kementerian Luar Negeri, RI mengecam keras pemasangan spanduk tersebut. Disebut sebagai tindakan provokatif, melanggar hukum humaniter, dan penghinaan terhadap fasilitas kemanusiaan yang dibangun dari solidaritas rakyat Indonesia.
Masalahnya, di jagat maya, publik Indonesia sangat marah, tampaknya mereka sudah hafal pola ini. Warganet langsung bereaksi, dan kali ini bukan dengan diplomasi, tapi dengan sarkasme level dewa.
“Bisanya kecam doang.”
“Kirim pasukan, jangan cuma kirim tweet.”
“Ada hati di rakyatnya, tapi pemerintahnya tidak”
“Mengecamnya sambil rebahan,”
Komentar-komentar itu menggambarkan satu hal, publik mulai lelah dengan “kecaman rutin” yang terasa seperti notifikasi, muncul, dibaca, lalu hilang tanpa dampak nyata.
Bagi warganet Indonesia, aksi IDF ini tak dapat ditolerir, sebab ini bukan cuma soal konflik geopolitik, melainkan soal harga diri sebagai bangsa. (*)












