Menkes Sebut Orang Bergaji Rp15 Juta Lebih Sehat dan Pintar, Timeline Langsung Panas

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. (Foto: dok istimewa)

JAKARTA, Rettro.id – Pernyataan Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin kembali bikin jagat media sosial panas dingin. Dalam sebuah forum diskusi di Jakarta, Menkes menyebut orang dengan gaji Rp15 juta per bulan “pasti lebih sehat dan lebih pintar” dibanding mereka yang bergaji Rp5 juta.

Kalimat itu langsung meluncur bebas ke timeline, masuk grup WhatsApp keluarga, hingga jadi bahan bercandaan netizen se-Indonesia.

Ucapan tersebut awalnya disampaikan saat Menkes membahas target Indonesia menjadi negara maju tahun 2045. Mengutip Suaradotcom, Selasa (26/5/2026).

Menurut dia, negara maju identik dengan masyarakat berpenghasilan tinggi yang ditopang kualitas pendidikan dan kesehatan yang baik. Namun seperti biasa, internet punya bakat luar biasa mengubah forum serius jadi arena stand up comedy nasional.

“Apa sih bedanya orang gaji Rp15 juta sama Rp5 juta? Cuma dua, pasti lebih sehat dan lebih pintar,” kata Menkes. Kalimat itu sontak membuat rakyat +62 mendadak refleksi diri sambil buka aplikasi mobile banking. Sebagian netizen bahkan bercanda mengecek saldo rekening untuk memastikan apakah dirinya masih masuk kategori “waras dan cerdas” versi ekonomi.

Warganet pun langsung ramai memberi tanggapan. Ada yang setuju karena akses pendidikan, makanan sehat, dan layanan kesehatan memang lebih mudah dijangkau kelompok bergaji tinggi. Tapi tak sedikit yang merasa hidup terlalu kompleks untuk diringkas dalam rumus “rekening tebal = otak encer”.

“Kalau pintar tapi nggak punya koneksi gimana, Pak?” tulis seorang netizen. Yang lain menyahut, “Saya sehat, rajin olahraga, tapi gaji tetap UMR.” Ada pula yang nyeletuk, “Pekerja lapangan gaji kecil malah lebih kuat angkat galon daripada pegawai kantoran bergaji besar yang tiap hari kena asam lambung karena deadline.”

Perdebatan makin liar ketika banyak warga mengaitkannya dengan realita upah pekerja di Indonesia. Di tengah harga kebutuhan pokok yang makin lincah, sebagian pekerja full time di daerah bahkan mengaku angka Rp5 juta masih terdengar seperti “gaji sultan lokal”. Netizen pun ramai-ramai membuat meme foto orang begadang lembur ditemani tulisan, “Kurang pintar apa lagi saya sampai kerja tiga shift?”

Meski menuai kritik dan candaan, sebagian publik mencoba memahami maksud Menkes dari sisi visi jangka panjang pemerintah. Bahwa kesehatan dan pendidikan memang berpengaruh terhadap produktivitas dan peluang ekonomi masyarakat.

Hanya saja, publik berharap rumus sukses tak berhenti di soal “sehat dan pintar”, tetapi juga dibarengi kesempatan kerja yang adil, upah layak, dan koneksi orang dalam yang tidak selalu jadi penentu masa depan.

Akhirnya, pernyataan ini bukan cuma memicu debat soal gaji, tapi juga membuka obrolan nasional tentang kesenjangan ekonomi, kualitas pendidikan, hingga nasib pekerja Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *