OLAHRAGA, Rettro.id – UFC White House menyajikan tontonan yang menarik dan paling dinanti pecinta olahraga baku pukul. Puncaknya, Justin Gaethje berhasil merebut sabuk kelas ringan UFC usai mengalahkan Ilia Topuria dengan kemenangan TKO di UFC White House, Senin (15/6) WIB.
Sejak bel pertama berbuny iIlia Topuria dan Justin Gaethje saling bertukar pukulan, seolah keduanya lupa bahwa menghindar juga termasuk bagian dari strategi bertarung.
Belum genap dua menit ronde pertama, area mata kanan Topuria sudah bocor lebih dulu akibat hantaman keras Gaethje. Darah mulai mengalir, sementara Gaethje masih tampil relatif kinclong. Meski begitu, beberapa pukulan balasan dari Topuria sempat membuat sang penantang sabuk terlihat goyah dan mengingat kembali arti kata “pertahanan.”
Ronde kedua menjadi panggung kebangkitan Topuria. Ia sukses menekan Gaethje dengan kombinasi pukulan beruntun hingga lawannya terjatuh. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan untuk menggelar sesi “pelukan paksa” di bawah lewat ground fighting. Kuncian demi kuncian dicoba, tetapi Gaethje bertahan layaknya pelanggan yang menolak keluar meski toko sudah tutup.
Masuk ronde ketiga, giliran Gaethje yang menemukan tombol reset. Sebuah pukulan keras mendarat telak dan membuat Topuria ambruk. Penonton sempat mengira laga akan selesai saat itu juga. Namun Topuria bangkit kembali dengan wajah yang sudah lebih cocok dijadikan poster film laga daripada atlet yang sedang bertanding.
Ronde keempat berlangsung dengan tensi yang tetap panas. Topuria kembali mencoba membawa pertarungan ke bawah lewat takedown dan berburu submission. Sayangnya, usaha itu gagal menghasilkan akhir manis. Pertarungan kembali berdiri dan keduanya melanjutkan tradisi saling menukar pukulan tanpa diskon.
Namun setelah ronde keempat berakhir, drama justru datang dari sisi medis. Luka di wajah Topuria dinilai terlalu parah untuk melanjutkan pertarungan. Wasit pun menghentikan laga dan menetapkan Justin Gaethje sebagai pemenang TKO sekaligus pemilik sabuk kelas ringan UFC. Singkatnya, Topuria berhasil membuat Gaethje kewalahan, tetapi wajahnya sendiri lebih dulu menyerah kepada kenyataan. (*)












