New York City, Rettro.id – Ketegangan di Lebanon memasuki babak baru yang lebih mematikan. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengungkap fakta mengejutkan di balik tewasnya pasukan penjaga perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon dalam dua insiden beruntun akhir Maret 2026.
Juru bicara PBB, Stéphane Dujarric, menegaskan insiden pertama pada 29 Maret disebabkan oleh tembakan langsung tank milik militer Israel. Bukti forensik di lapangan, termasuk pecahan proyektil di posisi PBB “7-1”, mengarah pada peluru utama kaliber 122 milimeter yang ditembakkan dari tank Merkava.
“Proyektil tersebut adalah peluru senjata utama tank 122 milimeter yang ditembakkan oleh tank Merkava pasukan pertahanan Israel,” ujar Dujarric, mengutip laporan ANTARA, Kamis (9/4/2026)

Sehari berselang, tragedi kembali terjadi. Pada 30 Maret, satu lagi pasukan UNIFIL tewas akibat ledakan alat peledak improvisasi (IED) yang dipasang dengan kawat pemicu. PBB menduga kuat perangkat mematikan itu ditempatkan oleh kelompok bersenjata Lebanon, Hizbullah.
Rangkaian insiden ini mempertegas eskalasi konflik yang kian tak terkendali. Ketegangan antara Israel dan Hizbullah memanas sejak 2 Maret, saat kelompok tersebut kembali meluncurkan roket ke wilayah Israel di tengah operasi militer bersama AS dan Israel terhadap Iran.
Sebagai balasan, Israel menggempur Lebanon secara besar-besaran, menyasar wilayah selatan, Lembah Beqaa, hingga pinggiran Beirut. Situasi ini menempatkan pasukan penjaga perdamaian di garis depan konflik, sekaligus memperbesar risiko korban dari pihak internasional. (*)












