Viral di Media Sosial, Netizen RI Ramai Benarkan Kritik The Economist soal Prabowo

Presiden Prabowo menerima delegasi Hisense di Kertanegara dan penadatanganan MoU dengan Danatara (Foto:Setkabri)

JAKARTA, Rettro.id – Sorotan tajam majalah internasional The Economist terhadap pemerintahan Prabowo Subianto langsung memantik ledakan reaksi di media sosial. Alih-alih membela pemerintah, banyak netizen justru mengaku apa yang ditulis media asal Inggris itu dianggap mewakili keresahan publik yang selama ini dirasakan di dalam negeri.

Artikel yang menyoroti tekanan ekonomi, pelemahan rupiah, hingga menyempitnya ruang demokrasi itu viral dan memicu banjir komentar bernada satire. Salah satu komentar yang ramai dibagikan menyindir pola respons pendukung pemerintah terhadap kritik internasional.

“Step 1: denial. Step 2: nyalahin medianya dengan bilang ada niat menghancurkan Indonesia. Step 3: aw come on…,” tulis seorang netizen. Sabtu (16/5/2026)

Warganet lain menilai rakyat sebenarnya tidak membutuhkan media asing untuk mengetahui kondisi ekonomi yang sedang terjadi. Menurut mereka, tekanan hidup sudah cukup terasa di tengah melemahnya daya beli dan nilai tukar rupiah yang terus menjadi sorotan.

“Tanpa dikasih tahu sama media luar pun, harusnya kita sebagai rakyat sudah sama-sama tahu juga soal ini,” tulis komentar lainnya.

Sindiran paling tajam muncul saat netizen menyinggung kurs rupiah dan kultus politik terhadap pemimpin. Dengan nada satire, seorang pengguna media sosial menulis, “Rupiah tembus Rp17.625 masih dibilang kita baik-baik saja, dan yang mimpin dielu-elukan. Udah ganti aja presidennya dengan Mas Gibran pasti lebih…? Tolong isi.”

Komentar lain bahkan menyebut kritik terhadap pemerintah sebenarnya sudah lama disampaikan publik, namun dianggap tak pernah didengar penguasa. “Bukan hanya media internasional, tapi kami rakyat Indonesia tahu dan sudah mengingatkan. Tapi mereka tidak mau dengar,” tulis seorang netizen.

Nada frustrasi bercampur ironi juga tampak dalam komentar lain yang ramai diperbincangkan. Netizen itu menyindir program prioritas pemerintah yang dianggap tetap dipaksakan di tengah tekanan ekonomi.

“Urusan apa kalian ngurusin negara ini. Sing penting MBG jalan terus, sing sehat semua. Dollar tembus Rp20 ribu juga ekonomi baik-baik saja. Utang tembus Rp10 ribu triliun kami pun bahagia. Satu-satu yang bisa buat kami bahagia pajak terus ditekan ke kami. Hati kami riang gembira,” tulisnya disertai emoji tertawa.

Gelombang komentar tersebut menunjukkan kritik The Economist tidak hanya berhenti sebagai sorotan media internasional, tetapi juga membuka ruang luapan keresahan publik di media sosial. (*) Bagi sebagian warganet, kritik itu dianggap bukan lagi sekadar opini luar negeri, melainkan cerminan kegelisahan yang kini dirasakan masyarakat sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *