JAKARTA, Rettro.id – Bantuan Presiden berupa ribuan sapi kurban untuk Idul Adha 2026 mendadak jadi bahan perbincangan panas di media sosial. Bukan karena ukuran sapinya, melainkan karena sumber uang untuk membeli hewan kurban tersebut ternyata berasal dari APBN alias uang negara.
Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, mengungkapkan sebanyak 1.098 ekor sapi yang dibagikan Presiden Prabowo Subianto dibeli menggunakan anggaran negara melalui pos Bantuan Presiden dan Bantuan Kemasyarakatan Presiden.
“Jadi sumber anggarannya dari APBN ya,” kata Juri di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, melansir Kospasdotcom, Selasa (26/5/2026).
Sapi-sapi tersebut disebut berasal dari peternak lokal dan akan disalurkan ke kabupaten serta kota di seluruh Indonesia. Total anggaran yang digelontorkan pun tak main-main, mencapai sekitar Rp100 miliar, dengan harga sapi yang berbeda-beda tergantung bobot dan lokasi pembelian.
Namun alih-alih menuai pujian, program itu justru memancing gelombang satire dari warganet. Banyak yang mempertanyakan kenapa bantuan itu disebut “Bantuan Presiden”, padahal uang yang dipakai berasal dari kantong negara, bukan dari dompet pribadi presiden.
“Lucu sekali, kurban pakai dana rakyat atas nama pribadi,” tulis salah satu akun di media sosial.
Komentar lain bahkan lebih nyelekit. “Anggaran 100 miliar pakai APBN alias uang negara tapi kurbannya di atasnamakan pribadi. Lama-lama negara jadi EO pencitraan,” tulis warganet lainnya.
Sebagian netizen juga bercanda bahwa sapi-sapi tersebut sebenarnya “patungan nasional berjamaah”, hanya saja label pengirimnya memakai nama presiden. “Bilangnya sapi dari Presiden, pas dicek ternyata transfernya dari rakyat juga. Kocak,” tulis komentar lain yang ramai dibagikan ulang.
Warganet mengingatkan, bahwa APBN pada dasarnya adalah uang rakyat. Sehingga, ketika bantuan sosial dibungkus dengan label personal pejabat, kritik soal pencitraan nyaris selalu sulit dihindari. (*)












