Dari Bandara ke Tungku Keris, Jalan Sisil Menjadi Empu Perempuan

Hashilatun Nasifah, Sisil begitu ia akrab disapa, memilih menjadi Empu Keris di Desa Aeng Tongtong, Kec Saronggi, Sumenep. (Foto: Ahmad Mustofa/BBC Indonesia)

SUMENEP, Rettro.id – Bara api menyala di hadapan Sisil. Di tengah panas tungku dan denting logam yang ditempa, perempuan 25 tahun itu menekuni pekerjaan yang mungkin tak pernah dibayangkan ketika ia masih mengenakan seragam sekolah penerbangan.

Hashilatun Nasifah, Sisil begitu ia akrab disapa, memilih menjadi empu keris.

Pilihan itu membawanya pulang dari dunia penerbangan ke Desa Aeng Tongtong, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Madura. Di desa yang dikenal sebagai sentra keris Madura itu, Sisil menjadi salah satu dari enam empu perempuan dari total 446 perajin keris.

Pada 2022, Aeng Tongtong bahkan memperoleh penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai desa wisata dengan jumlah empu keris terbanyak.

Bagi Sisil, keputusan menjadi empu bukan sekadar meninggalkan pekerjaan lama untuk mencari profesi baru. Ada sesuatu yang lebih personal: warisan keluarga yang sejak kecil sudah akrab dengan kehidupannya.

Sebelum pulang ke kampung halaman, Sisil sempat menempuh pendidikan penerbangan di Sidoarjo. Ia kemudian bekerja sebagai petugas ticketing dan kargo di Bandara Juanda.

Namun, kehidupan di bandara akhirnya ia tinggalkan. Beberapa tahun lalu, ia memilih kembali ke Aeng Tongtong dan mulai serius mempelajari pembuatan keris.

“Sebagai keturunan seorang empu, tentunya sejak kecil saya sudah tidak asing lagi dengan keris. Karena dunia keris merupakan aktivitas turun-temurun dalam keluarga,” kata Sisil. Mengutip BBC Indonesia. Senin (31/8/2026).

Sejak kecil, keris tidak hanya hadir sebagai benda pusaka di rumahnya. Nilai, filosofi, dan cerita yang melekat pada setiap bilah perlahan membentuk ketertarikannya.

“Dan kuatnya nilai-nilai yang ada dalam keris terus ditanamkan pada saya akhirnya muncul ketertarikan saya, bagaimana saya bisa melanjutkan aktivitas pembuatan keris,” ujarnya.

Bagi Sisil, keris menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar daripada bentuk bilah dan keindahan pamornya. Di dalamnya terdapat filosofi, harapan, sekaligus doa.

Namun, menjadi empu juga bukan pilihan yang semata-mata romantis. Ada nilai ekonomi yang membuat profesi ini tetap relevan sebagai sumber penghasilan.

Harga sebuah keris sangat beragam, bergantung pada kelas, kualitas, tingkat kesulitan, dan proses pembuatannya. Sisil bahkan pernah menjual keris buatannya seharga Rp20 juta.

Di Aeng Tongtong, keris umumnya terbagi dalam tiga kelas, yakni kelas suvenir, kelas menengah, dan kelas tertinggi yang mencakup keris pusaka atau ageman.

Untuk kelas tertinggi, nilainya dapat mencapai ratusan juta rupiah. Selain kualitas dan tingkat ketelitian pembuatannya, keris pusaka juga kerap memiliki nilai budaya dan kepercayaan tertentu bagi pemiliknya.

Tetapi sebelum mampu menghasilkan keris bernilai puluhan hingga ratusan juta rupiah, Sisil harus melewati proses belajar yang panjang.

Ayahnya, Abdus Siddik, menjadi orang pertama yang membimbingnya ketika ia mulai serius belajar membuat keris pada 2022.

Meski sejak kecil hidup di lingkungan keluarga empu, Sisil mengaku baru benar-benar mempelajari proses pembuatan keris ketika mulai belajar langsung bersama sang ayah.

“Segala pertanyaan, teori, pengerjaan dan lain-lain justru lebih mudah daripada saya harus belajar ke orang lain,” katanya.

Bagi Abdus Siddik, keputusan putrinya menjadi empu merupakan kebanggaan tersendiri. Ia melihat ada kesadaran dari generasi berikutnya untuk menjaga sesuatu yang telah diwariskan keluarganya selama bergenerasi.

“Sebagai seorang ayah, saya merasa bangga dan juga gembira melihat anak perempuan saya bisa tertarik atau punya kesadaran diri untuk melanjutkan aktivitas pembuatan keris yang sudah menjadi warisan turun-temurun di keluarga kami,” ujarnya.

Menjadi empu bukan pekerjaan yang bisa dikuasai dalam waktu singkat. Sisil harus memahami berbagai bentuk atau dhapur keris, mengenali jenis logam, sekaligus menguasai tahapan pembuatan mulai dari penempaan, pembentukan bilah, penghalusan hingga pewarangan untuk memunculkan pamor. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *