Olahraga, Rettro.id – Barcelona datang ke Stadion Metropolitano, Rabu (15/4/2026) dengan misi besar, membalikkan kekalahan 0-2 di leg pertama.
Bahkan, baru hitungan detik laga dimulai, Lamine Yamal langsung bikin jantung tuan rumah copot lewat serangan kilat.
Laga baru berjalan empat menit, stadion yang tadinya berisik mendadak hening saat Yamal mencetak gol pembuka dengan gaya santai tapi mematikan.
Momentum makin menggila. Menit ke-24, giliran Ferran Torres menghantam pertahanan Atlético Madrid lewat sepakan keras kaki kiri usai kesalahan Koke. Skor jadi 2-0, agregat imbang 2-2, dan fans Barca mulai siap-siap buka draft status “Remontada is real!”
Tapi seperti biasa, harapan fans Barca sering punya plot twist. Menit ke-31, Ademola Lookman muncul jadi cameo tak diundang dan mencetak gol balasan. Skor berubah 2-1, agregat kembali miring. Dari yang tadi mau comeback, tiba-tiba jadi “kok begini lagi sih?”
Barca tetap ngegas, bahkan sempat merasa sudah menyamakan keadaan lewat gol Torres. Sayangnya, VAR datang bukan sebagai penolong, tapi seperti mantan yang cuma muncul buat bikin sakit hati, gol dianulir karena offside.
Belum selesai drama, menit ke-79 Eric García diganjar kartu merah setelah menjatuhkan Alexander Sørloth. Main 10 orang? Ya sudah, tamatlah kisah Remontada.
Peluit akhir berbunyi, Barcelona tetap menang di laga, tapi kalah dalam cerita, tersingkir dengan agregat 2-3. Sementara Atlético Madrid melenggang ke semifinal, Barca harus pulang sambil mikir, “high line ini strategi atau jebakan Batman?”
Di luar lapangan, pertandingan belum benar-benar selesai. Fans Barca langsung “naik pitam mode garang”. Wasit jadi sasaran empuk, mulai dari gol Torres yang dianulir, sampai kartu merah García yang dianggap terlalu kejam.
Di media sosial, para culés kompak bersuara, VAR dibilang lebih sering ngecek kalau Atletico jatuh, tapi pura-pura sibuk kalau Barca yang kena. Bahkan fanspage ikut turun gunung, menegaskan satu hal, menurut mereka, ini bukan sekadar kalah tapi sengaja “dikalahkan.” (*)












