MBG Mendunia, Prabowo Bicara Keberhasilan di Rusia, Media Asing Justru Soroti Keracunan

Presiden Prabowo Subianto menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, sebagai tamu kehormatan. (Foto: SetkabRI)

JAKARTA, Rettro.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya benar-benar mendunia. Ironisnya, bukan keberhasilan program yang menjadi sorotan utama media asing, melainkan rentetan dugaan keracunan yang membuat ribuan siswa dan guru jatuh sakit.

Di saat Presiden Prabowo Subianto membawa MBG ke panggung internasional, kabar tentang dampak program tersebut justru ikut menyeberang ke media global.

Prabowo menghadiri Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Vladivostok, Rusia, sebagai tamu kehormatan. Dalam forum yang juga dihadiri Presiden Rusia Vladimir Putin itu, Prabowo memaparkan MBG sebagai bagian dari pembangunan yang manfaatnya harus dirasakan masyarakat.

Prabowo menegaskan pembangunan harus diukur dari apa yang dirasakan keluarga biasa, termasuk apakah anak-anak mendapatkan makanan bergizi.

“Indonesia menyediakan makanan bergizi gratis bagi semua anak-anak kita dan bagi ibu hamil,” ujar Prabowo dalam pidatonya di EEF, Kamis (3/9/2026).

Di panggung Rusia, MBG tampil sebagai wajah pembangunan Indonesia. Namun, dipemberitaan internasional, ceritanya justru berbeda.

Reuters melaporkan lebih dari 1.700 siswa dan guru jatuh sakit hanya dalam tiga hari setelah mengonsumsi makanan dari program makan gratis pemerintah Indonesia. Kasus tersebut terjadi di sejumlah daerah dan menambah panjang daftar dugaan keracunan yang dikaitkan dengan pelaksanaan MBG.

Salah satu kasus terbaru terjadi di Lasem, Jawa Tengah. Ratusan siswa dan guru mengalami gejala sakit setelah menyantap makanan MBG. Reuters juga menyoroti dugaan persoalan penyimpanan dan waktu distribusi makanan.

Sorotan tak berhenti di Reuters.

South China Morning Post (SCMP) ikut mengangkat persoalan keracunan makanan dalam program makan gratis Indonesia. Bahkan, pemberitaan mengenai MBG kembali muncul di tengah sorotan internasional terhadap keamanan pangan program tersebut.

Jadilah ironi.

Di Vladivostok, MBG dipaparkan sebagai bukti pembangunan yang berpihak kepada rakyat. Di media asing, MBG justru diberitakan karena rakyat—khususnya anak-anak sekolah—jatuh sakit setelah menyantap makanan program tersebut.

Kontras itu kemudian dibawa netizen Indonesia ke kolom komentar media asing.

Di unggahan terkait pemberitaan Reuters, seorang netizen menyindir:

“Masuk Reuters jalur MBG.”

Di kolom komentar SCMP, sindiran serupa ikut bermunculan.

“Di sini tak ada buzzer.”

Netizen lainnya menulis komentar yang mengaitkan kasus MBG dengan berbagai persoalan yang tengah menjadi perhatian publik.

Komentar-komentar tersebut merupakan murni reaksi netizen dan bukan pernyataan resmi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *