SIDOARJO, Rettro.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali diterpa kasus keracunan massal. Di tengah program yang terus diperluas, akumulasi korban dugaan keracunan MBG di Indonesia disebut telah mencapai 40.759 orang sejak 2025 hingga September 2026.
Data tersebut berdasarkan pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI). Khusus Januari hingga awal Agustus 2026, tercatat 12.656 orang diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG.
Kasus terbaru terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (1/9/2026).
Ratusan santri mengalami keluhan beberapa jam setelah menyantap menu MBG. Gejalanya beragam, mulai pusing, mual, muntah, diare hingga sesak napas.
Hingga malam hari, lebih dari 400 santri dilaporkan harus mendapat penanganan di sejumlah rumah sakit. Delapan di antaranya disebut mengalami gejala berat.
Jumlah korban kemudian terus bertambah hingga Rabu (2/9/2026).
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menyebut korban tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren Manbaul Hikam. Ada pelajar dari lembaga pendidikan lain yang juga mengalami gejala serupa.
Kesamaannya, mereka mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.
“Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Kalitengah, Tanggulangin,” kata Emil.
SPPG Kalitengah diketahui memasok makanan MBG untuk 19 lembaga pendidikan.
Badan Gizi Nasional (BGN) kemudian menghentikan sementara operasional SPPG tersebut. Penghentian dilakukan sambil menunggu evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo juga masih menginvestigasi sampel makanan dan muntahan korban untuk memastikan penyebab kejadian.
Bupati Sidoarjo Subandi menyatakan akan memeriksa perizinan SPPG Kalitengah.
Namun, penghentian sementara dinilai belum cukup.
Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur mendesak pemerintah menghentikan ekspansi MBG, melakukan audit independen, memulihkan korban, serta memastikan adanya pertanggungjawaban.
“Kasus di Sidoarjo harus menjadi titik berhenti,” kata Isnur.
Dugaan penyebab keracunan MBG selama ini berkaitan dengan jeda terlalu panjang antara makanan dimasak dan disajikan, terutama jika melewati empat jam, serta persoalan higienitas dapur. Kondisi tersebut berpotensi memicu kontaminasi mikroba dan mempercepat makanan basi.
YLBHI juga menyoroti perbedaan angka korban yang dicatat berbagai lembaga. Perbedaan tersebut disebut terjadi karena perbedaan periode dan metode pencatatan.
Namun, bagi YLBHI, persoalan itu menunjukkan pemerintah belum memiliki satu sistem data yang terbuka, terverifikasi, dan dapat diaudit publik, sejauh mana keamanan makanan MBG dijamin sebelum program tersebut terus diperluas. (*)












