SUMENEP, RETTRO.ID – Julukan “Bupati Tongtong” yang sempat disematkan sebagai sindiran oleh sebagian pihak kepada Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo kini justru membungkam mulut para pembencinya
Bagaimana tidak, dulu festival musik Tontong yang masuk dalam program kalender event tahunan Sumenep sempat dicibir karena dinilai tak berguna.
Ironisnya, hal itu malah mebuahkan hasil, kini Tongtong Angin Ribut asal Kecamatan Pasongsongan dipercaya tampil di kawasan Sirkuit Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 7 Oktober 2026. Kesenian tradisional khas Madura itu akan hadir dalam sebuah gelaran berskala internasional.
Bagi Fauzi, tampilnya Tongtong Sumenep di Mandalika bukan sekadar pertunjukan musik tradisional. Momen tersebut menjadi ruang untuk membawa identitas budaya Sumenep dan Madura ke hadapan publik yang lebih luas.
“Suatu kebanggaan tersendiri kepada kita semua. Sumenep tampil di event internasional,” kata Fauzi, Kamis (24/9/2026).
Tongtong Angin Ribut merupakan kelompok kesenian asal Pasongsongan yang telah berdiri sejak 1986. Selama puluhan tahun, kelompok tersebut mempertahankan tradisi musik Tongtong yang menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Madura.
Kini, kesenian yang dahulu kerap ditempatkan sebatas hiburan tradisional itu mendapat panggung di kawasan Mandalika, salah satu destinasi olahraga dan pariwisata yang menjadi bagian dari agenda berskala internasional.
Fauzi mengatakan, penampilan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa budaya lokal tidak harus kehilangan jati diri untuk dapat dikenal lebih luas.
“Penampilan Angin Ribut di Mandalika sekaligus menjadi pesan bahwa budaya lokal tidak harus kehilangan jati diri untuk dapat dikenal lebih luas,” ujarnya.
Perjalanan Tongtong menuju Mandalika pun memberi warna tersendiri bagi julukan “Bupati Tongtong” yang pernah diarahkan kepada Fauzi oleh pihak yang mengkritiknya.
Jika sebelumnya julukan itu digunakan sebagai cibiran terhadap kedekatan Fauzi dengan kesenian Tongtong, kini musik tradisional tersebut justru mendapat kesempatan tampil membawa nama Sumenep dan Madura di panggung yang lebih luas.
Tongtong Angin Ribut dijadwalkan tampil pada 7 Oktober mendatang. Dentumannya dari Pasongsongan akan membawa satu pesan: tradisi lokal tetap bisa berdiri di panggung modern tanpa harus meninggalkan identitasnya. (*)












